Menguras Emosi! Jared Ali Raih Juara 1 Lomba Lari Maraton di Film 'Children of Heaven'

Film 'Children of Heaven'

Mia Taksaka | MataMata.com
Selasa, 12 Mei 2026 | 09:51 WIB
Para Pemain Film 'Children of Heaven'. (ist)

Para Pemain Film 'Children of Heaven'. (ist)

Pop.matamata.com - Saat ini, film Indonesia banyak disuguhi horor dan komedi, namun film 'Children of Heaven' Versi Indonesia bakal menjadi tontotan inspiratif bagi generasi muda.

Film tersebut merupakan adaptasi dari film Legendaris Iran yang Pernah Masuk Nominasi Oscar.

Children of Heaven menjadi film Iran pertama yang masuk nominasi Academy Awards atau Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film.

Selain itu, film ini juga mendapat apresiasi di berbagai festival dunia, termasuk Montreal World Film Festival dan Singapore International Film Festival.

Secara garis besar, film 'Children of Heaven' versi Indonesia tetap mempertahankan inti cerita dari film aslinya.

Film garapan sutradara handal Hanung Bramantyo ini berkisah tentang dua kakak beradik, Ali dan Zahra, yang hidup dalam kemiskinan.

Dengan tema kemiskinan, keluarga, dan pengorbanan, film 'Children of Heaven' dianggap sebagai salah satu mahakarya sinema humanis Asia.

Adaptasi ini disutradarai Hanung Bramantyo dengan pendekatan lokal yang membuat cerita terasa lebih dekat dengan realitas sosial masyarakat Indonesia saat ini.

Berlatar belakang sungai atau kali Code, Yogyakarta, kisah seorang bapak yang hidup dalam kemiskinan harus berjuang untuk tetap menyekolahkan dan menafkahi ketiga anaknya serta istrinya.

Film ini berfokus tentang dua kakak beradik, Ali dan Zahra, yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Baca Juga: Garap Film 'Children of Heaven Versi Indonesia', Hanung Bramantyo Tak Ingin Eksploitasi Kesedihan

Konflik bermula ketika Ali tanpa sengaja kehilangan sepatu milik Zahra di sebuah pasar tradisional.

Karena takut membebani orang tua yang kesulitan ekonomi, keduanya memilih merahasiakan kejadian tersebut.

Mereka akhirnya berbagi satu pasang sepatu untuk dipakai bergantian ke sekolah.

Dari premis yang sangat sederhana itu, film berkembang menjadi potret tentang tanggung jawab, kasih sayang keluarga, dan perjuangan anak-anak menghadapi realitas hidup.

Ketegangan dalam film bukan dibangun lewat adegan besar, melainkan dari kecemasan sehari-hari yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.

Ali harus rela berlari agar tidak terlambat sekolah, bahkan sering dimarahin oleh kepala sekolah dan gurunya lantaran sering terlambat masuk sekolah akibat menunggu sepatu dari adiknya yang pulang sekolah.

Ali merupakan murid yang rajin dan cerdas.

Harapan baru muncul ketika Ali mengikuti lomba lari dengan hadiah utama berupa sepatu baru.

Momen inilah yang menjadi titik emosional penting dalam cerita.

Saat pertandingan lari maraton yang diselenggarakan Wali Kota Semarang, Ali mendapatkan Juara 1.

Film ini menghadirkan Jared Ali sebagai Ali dan Humaira Jahra sebagai Zahra.

Kepolosan keduanya menjadi kekuatan utama yang menjaga nuansa emosional film tetap alami.

Selain itu, film ini juga diperkuat sejumlah aktor senior seperti Andri Mashadi, Faradina Mufti, Didik Nini Thowok, Dodit Mulyanto, hingga Slamet Rahardjo.

Mengapa film 'Children of Heaven' begitu dicintai adalah karena kesederhanaannya.

Film ini tidak menawarkan kemewahan visual atau plot rumit, tetapi berhasil membangun kedekatan emosional melalui pengalaman hidup yang universal.

Kemiskinan dalam film digambarkan bukan sebagai eksploitasi kesedihan, melainkan sebagai realitas yang melahirkan solidaritas dan keteguhan hati.

Penonton diajak memahami bagaimana anak-anak dapat tumbuh dewasa lebih cepat ketika hidup dalam keterbatasan.

Pendekatan inilah yang membuat film 'Children of Heaven' sering dipakai sebagai bahan diskusi pendidikan film dan kemanusiaan di berbagai negara.

Banyak kritikus menyebut film karya Majid Majidi tersebut berhasil memperlihatkan 'kemewahan emosi' di tengah kehidupan yang serba sederhana.

Adegan Film 'Children of Heaven'. (ist)
Adegan Film 'Children of Heaven'. (ist)

Versi Indonesia tampaknya mencoba mempertahankan kekuatan itu.

Alih-alih sekadar menjadi remake, film ini diarahkan sebagai refleksi sosial tentang keluarga kecil yang bertahan dalam tekanan ekonomi.

Skenario yang ditulis Oka Aurora dan Hanan Novianti juga disebut tetap menjaga pesan universal film aslinya, sambil menyesuaikan konteks budaya Indonesia.

Adaptasi Indonesia dan Tantangan Membawa Film Legendaris ke Generasi Baru Mengadaptasi film sekelas Children of Heaven tentu bukan tugas mudah.

Film asli memiliki basis penggemar besar dan reputasi kuat sebagai salah satu karya terbaik perfilman dunia.

Namun, pendekatan lokal yang diambil versi Indonesia justru menjadi hal menarik. Isu tentang keluarga sederhana, keterbatasan ekonomi, hingga perjuangan anak-anak masih sangat relevan dengan kondisi sosial Indonesia saat ini.

Produser Manoj Punjabi mengatakan film 'Children of Heaven' sebagai salah satu kisah paling menyentuh yang layak diperkenalkan kembali kepada generasi baru.

Lebih dari sekadar nostalgia, adaptasi ini menunjukkan bahwa cerita humanis tetap memiliki tempat di tengah industri film modern yang dipenuhi tontonan cepat dan spektakuler.

Pada akhirnya, kekuatan utama film 'Children of Heaven' bukan terletak pada konflik besar, tetapi pada kemampuan film ini membuat penonton memahami arti empati, pengorbanan, dan cinta keluarga melalui hal-hal kecil yang sering luput diperhatikan.

Film 'Children of Heaven' akan tayang serentak mulai 27 Mei 2026 di bioskop seluruh Indonesia.

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI