matamata.com - Hari Kesehatan Mental Dunia yang jatuh setiap tanggal 10 Oktober selalu diperingati oleh masyarakat Indonesia.
Kesehatan mental juga dinilai sangat penting bagi kehidupan manusia, bukan hanya kesehatan raga atau fisik semata.
Pakar psikologi sekaligus dosen, Soffy Balgies, M.Psi juga punya makna tersendiri terkait peringatan Hari Kesehatan Mental Dunia.
Banyaknya kasus terkait bullying, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), kekerasan seksual dan kasus bunuh diri membawa keprihatinan tersendiri bagi masyarakat Indonesia dan pemerintah yang setiap tahunnya terus meningkat.
"Kita melihat ada fenomena, dibalik banyak kasus kesehatan mental yang terungkap, karena saat ini masyarakat sudah mulai paham untuk bisa speak up, jadi kesehatan mental itu tidak mesti harus ada kasus dulu, pencegahan juga sangat dibutuhkan," kata Soffy Balgies, M.Psi, saat ditemui di HI Hotel, Senen, Jakarta Pusat, kemarin.
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini juga mengatakan orang yang ingin jiwanya sehat harus tetap menjaga kewarasan.
"Jadi, kita harus bangun relasi yang sehat, baik ke pasangan hidup, anak-anak, orang tua ataupun lingkungan sekitar," paparnya.
Menurutnya, saat ini orang-orang bermasalah itu akan mencari konselor, yang bisa dipercaya dan bisa membantu dia untuk mencari solusi yang terbaik, terlebih banyaknya layanan konseling di berbagai platform media daring atau media online.
"Ada banyak praktek konsultasi online, kadang korban itu hanya butuh didengar dan berharap pulih secara mental," ucapnya.
Kasus bunuh diri di Indonesia juga tahun ini terbilang meningkat terutama soal kondisi ekonomi yang tidak menentu.
"Ada banyak hal untuk mengantisipasi kasus bunuh diri, yang pertama pelaku bunuh diri itu sudah depresi akut sehingga sudah buntu pemikirannya, nah itu harus segera diselamatkan, kedua dibutuhkan suport sistem atau lingkungan sekitar atau cari bantuan profesional, ada hotline Puspaga kalau di Surabaya, kalau di Jakarta ada Komnas Anak dan Perempuan," tegasnya.
Kasus Bunuh diri itu merupakan cara orang yang sudah merasa putus asa, bahkan ada juga bunuh diri yang satu keluarga.
"Kenapa demikian, karena mereka yang bunuh diri satu keluarga itu, tidak mau anak-anak dan pasangan hidupnya menderita dan jadi beban orang lain," jelasnya.
Maraknya kasus bunuh diri harus segera dicegah dan diantisipasi pemerintah dalam hal ini Kemenkes, Kemensos, Kementrian PPA dan lembaga terkait untuk melakukan sosialisasi perihal kesehatan mental.
"Remaja-remaja usia sekolah banyak bunuh diri akibat bullying, kaum pekerja bunuh diri karena faktor ekonomi dan kaum lansia bunuh diri karena faktor penyakit. Hal itu harus segera diantisipasi dengan penanganan yang berbeda-beda sehingga angka bunuh diri di Indonesia menurun," tegasnya.
Soffy Balgies, M.Psi berharap agar Kementrian Kesehatan menyediakan program khusus terkait kesehatan mental di rumah sakit.
"Lulusan S1 Psikologi bisa direkrut untuk jadi nakes (tenaga kesehatan) khusus konsuling psikologi ke pasien-pasien," ungkapnya.
Tak hanya di rumah sakit, pemerintah juga harus memperbanyak lembaga konselor pernikahan, termasuk konselor untuk orang yang baru saja bercerai.
"Setelah cerai butuh waktu recovery, harus bisa move on, tipsnya adalah masa lalu perlu diingat tapi juga harus bisa bangkit jangan sampai terpuruk, terus ada perencanaan hidup ke depannya dan yang terakhir hidup itu harus terikat ke depannya atau ada tugas tersendiri dalam hidupnya," tegasnya.
Soffy juga mengatakan Hari Kesehatan Mental harus dimaknai dengan baik dan berpikir positif.
"Saya harus merawat kesehatan mental saya secara terus menerus, saya harus bisa bantu orang juga untuk menangani masalah kesehatan mental," terangnya.
Soffy Balgies, M.Psi berharap masyarakat Indonesia harus terbebas dari masalah psikologis atau depresi.
"Meskipun kondisi tidak baik-baik saja, maka kita harus cari sisi baiknya, mencari bantuan itu penting, membangun kemampuan diri, bahagia itu kita yang bikin, jangan terlalu mengharapkan sama orang, harus punya kekuatan untuk bisa bangkit dari keterpurukan hidup dan harus bisa mandiri," tandas Soffy Balgies, M.Psi.
Soffy Balgies, M.Psi merupakan Psikolog yang menyelesaikan pendidikan S1, Pendidikan Profesi, hingga Magister Profesi Psikologi di Universitas Surabaya.
Soffy Balgies, M.Psi aktif menjadi Instruktur di Sekolah Hotel Surabaya.
Sebagai psikoterapis, ia ahli dalam pemulihan trauma berbasis emosi-spiritual.
Soffy juga memegang peran strategis di berbagai organisasi.
Ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Asosiasi Muslimah Pengusaha (ALISA) Khadijah ICMI Jawa Timur, Ketua Asosiasi Psikologi Positif Indonesia (AP2I) Wilayah Jawa Timur, serta Ketua Asosiasi Konselor Keluarga dan Pernikahan Indonesia.
Terpopuler
-
Komnas HAM Pendalami Dasar Hukum Penurunan 486 Konten Media Sosial oleh Komdigi
-
Arsenal vs Lille: Calvin Verdonk Berpeluang Cetak Sejarah di Liga Champions
-
Menteri LH Tegaskan Pemadaman Karhutla dan Penyegelan 68 Perusahaan Konsesi
-
Ketua MPR Sebut Dakwah Habib Umar Permudah Tugas Menjaga Persatuan Bangsa
-
Listrik Padam di Batam Pulih, PLN Batam Siapkan Kompensasi Otomatis untuk Pelanggan