Pop.matamata.com - Penyanyi senior Ria Resty Fauzy, sudah empat dekade bertahan di industri musik Tanah Air, bukan sekadar soal usia karier, tetapi lebih dari itu bagaimana sebuah nama tetap hidup di hati pendengarnya.
Itulah yang dibuktikan Ria Resty Fauzy, setelah melewati berbagai fase industri musik Indonesia, penyanyi yang pernah menjadi ikon pop era 80-90 ini, memilih merayakan perjalanan panjangnya lewat sebuah konser spesial bertajuk "40 Tahun Berkarya Ria Resty Fauzy".
Namun, Ria tak ingin konser ini hanya menjadi panggung nostalgia.
Ia justru menjadikannya sebagai titik awal babak baru dengan merilis single terbaru berjudul 'Rindu Yang Menyiksa'.
Sebuah langkah berani yang menegaskan bahwa perjalanan seorang musisi sejati tidak pernah mengenal kata selesai.
Di saat banyak nama hanya hidup sebagai kenangan, Ria memilih kembali bersaing, membuktikan bahwa kualitas dan dedikasi selalu menemukan jalannya untuk tetap relevan.
Single 'Rindu Yang Menyiksa', ciptaan Dommy Alen dan diproduseri langsung oleh Ria, menjadi simbol kebangkitan baru bagi perjalanan musikal Ria Resty Fauzy.
Lagu ini seolah menyalakan kembali cahaya sebuah bintang yang sempat meredup setelah lebih dari dua dekade hiatus dari industri rekaman.
"Bagi saya, kembali bernyanyi bukan soal mengejar popularitas atau materi, musik sudah menjadi bagian dari hidup saya selama 40 tahun, dan panggung selalu punya tempat yang tidak bisa digantikan apa pun. Saya ingin kembali berkarya, kembali menciptakan lagu yang bisa diterima masyarakat, dan semoga 'Rindu Yang Menyiksa' menjadi awal perjalanan baru itu," tutur Ria Resty Fauzy, Minggu (28/6/2026).
Dengan karakter vokal khas yang nyaris tak berubah, Ria menghadirkan nuansa hangat yang langsung membawa pendengar kembali ke masa ketika lagu-lagu pop melankolis menjadi soundtrack kehidupan banyak orang.
Balutan aransemen pop yang emosional, sederhana, namun kuat secara rasa, menjadi identitas yang selama ini melekat pada dirinya.
"Kalau masih ada penonton yang berdiri, bernyanyi bersama, lalu memberikan tepuk tangan dengan tulus, itulah bayaran paling mahal yang pernah saya terima. Saya percaya, selama masih ada cinta dari pendengar, seorang penyanyi tidak pernah benar-benar selesai," sambung Ria Resty Fauzy.
Bukan sekadar mengandalkan nostalgia, 'Rindu Yang Menyiksa' hadir sebagai bukti bahwa kualitas musik yang jujur dan penuh perasaan, masih memiliki tempat di tengah derasnya perubahan selera pasar.
Nama Ria Resty Fauzy sendiri bukanlah nama asing dalam sejarah musik populer Indonesia.
Di era keemasannya pada dekade 1980 hingga 1990-an, ia melahirkan sederet lagu yang menjelma menjadi mega hits, seperti "Cintaku Sedalam Lautan Atlantik", "Sinar Matamu Bagai Besi Sembrani", "Cintaku Sampai ke Ethiopia", "Sepatu Dari Kulit Rusa", hingga "Kututup Layar Cintaku".
Lagu-lagu tersebut bukan hanya sukses di dalam negeri, tetapi juga mengantarkan namanya dikenal luas di Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Singapura.
Beberapa penghargaan yang pernah didapat diantaranya 5 Golden Record, BASF Awards untuk lagu 'Cintaku Sampai Ke Euthiopia 1987', HDX Awards untuk lagu 'Kututup Layar Cintaku 1988'.
Konsistensi, karakter vokal yang kuat, dan kemampuan menyampaikan emosi melalui setiap lirik menjadikan Ria sebagai salah satu ikon musik pop Indonesia yang tetap dikenang lintas generasi.
Kemegahan konser "40 Tahun Berkarya Ria Resty Fauzy" semakin lengkap dengan kehadiran sederet musisi legendaris era 80-90, seperti Obbie Messakh, Endang S. Taurina, Ratih Purwasih, Lies Meinawati, Julian Dekrita, Etrie Jayanti dan Gandhi S.
Mereka tampil membawakan sejumlah lagu-lagu hits yang pernah membesarkan nama Ria.
Menciptakan sebuah malam penuh kenangan yang sarat emosi, sekaligus menjadi penghormatan atas dedikasinya di dunia musik Indonesia.
Konser ini berlangsung di Ballroom Golden Boutique Hotel Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 27 Juni 2026, menjadi perayaan istimewa yang menyatukan nostalgia, apresiasi, dan semangat untuk kembali melangkah ke masa depan.
Berita Terkait
-
Merasa Kehilangan, ASBAK Band Pilih 'Hidup Tanpa Cinta'
-
Lewat Lagu 'Sampai Kapan Kupendam', Asbak Band Ceritakan Cinta Dalam Diam
-
Penuh Emosi dan Kecewa, Band Dadali Resmi Rilis Lagu 'Disaat Kau Berubah'
-
Lewat Lagu 'Jangan Ngebut', Cantika Davinca ungkap Kegelisahan Cinta
-
Melalui Lagu 'Aku Bisa', Rucky Markiano Bangkit dari Luka dan Keterpurukan
Terpopuler
-
Pengusaha Sandiana Soemarko, Mengedepankan Kepedulian Sosial di Indonesia
-
Didukung Sang Bunda, Jirayut jadi Pemeran Utama di Film 'Cek Khodam'
-
JPU Tak Dapat Hadirkan 14 Saksi di PN Jakbar, Terdakwa Reinhart Muljadi dan Tim Kuasa Hukum Kecewa
-
Merasa Kehilangan, ASBAK Band Pilih 'Hidup Tanpa Cinta'
-
Komunitas Rider Kalisari R2L, Gelar Touring Kebersamaan ke Bogor
Terkini
-
ART di Cileungsi Tewas Diduga Dianiaya 3 Rekannya, Pihak Keluarga Korban Tuntut Keadilan
-
Ketua Exco Partai Buruh Papua Tengah, Dukung Said Iqbal Atasi Kasus 8.300 PHK Karyawan PT Freeport Indonesia
-
Menyesal! Davina Karamoy Tak Kuasa Tahan Tangis di Film 'Andai Waktu Bisa Diulang Kembali'
-
Menuju Panggung Internasional, Atlet Muda Indonesia Dibina dengan Jangka Panjang
-
Kisahkan Tragedi Tsunami Aceh! Abidzar hingga Cinta Brian, Ungkap Sinetron 'Lautan Cinta'