Mia Taksaka | MataMata.com
KBM App Goes Korea. (ist)

Pop.matamata.com - Selama ini kita mengenal Korea Selatan sebagai Negeri Ginseng.

Namun, bagi siapa pun yang melintasi jalanan Seoul atau mampir ke minimarketnya, ada pemandangan lain yang lebih mendominasi diantaranya barisan toko ayam goreng yang aromanya menggoda di setiap sudut, serta buah strawberry merah merona dengan ukuran yang tidak masuk akal.

Pengalaman sensorik inilah yang membekas di hati para penulis Diamond KBM App-Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka_Umay, Yazmin_Aisyah, FebriYthi, Julli_Nobasa, dan Lebah Ratih, saat menjelajahi Korea.

Misteri Ayam Goreng "Rasa Kepiting"

Ada satu momen tak terlupakan saat kami berada di area resort ski salju. Kami mencicipi ayam goreng lokal yang rasanya luar biasa unik.

"Enak sekali, rasa ayamnya malah seperti kepiting!" seloroh salah satu penulis.

Sayangnya, karena saking asyiknya menikmati suasana, kami lupa mencatat nama restorannya.

Begitulah uniknya ayam goreng di Korea, rata-rata didominasi merek lokal dengan cita rasa yang sangat spesifik dan inovatif.

Bahkan saat mencoba menu All You Can Eat (AYCE) yang khusus menyajikan ayam, saya sempat ragu.

Di Indonesia, saya biasanya menghindari ayam saat grill karena teksturnya sering keras dan lama matang. Namun di Korea? Ayam bakarnya sangat empuk, juicy, dan bumbunya meresap hingga ke tulang.

Ini membuktikan bahwa standar pengolahan makanan mereka sudah berada di level yang berbeda.
Strawberry Sebesar Jambu Air: Keajaiban Smart Farming.

Jika ayam gorengnya menggoda, maka buah strawberry-nya adalah sebuah keajaiban.

Di pasar tradisional hingga pedagang kaki lima, kami menemukan strawberry segar yang ukurannya sangat besa nyaris sebesar jambu air! Rasanya? Sangat segar dan manis tanpa perlu tambahan pemanis apa pun.

Saya teringat pengalaman berkali-kali mengunjungi kebun strawberry di Jawa Barat, namun seringkali kecewa karena saat tiba, pohonnya sedang tidak berbuah atau tidak bisa dipetik.

Di Korea, hal ini jarang terjadi berkat teknologi Smart Farming.

Meski belum sempat masuk ke ladangnya, kami mempelajari bagaimana agrowisata ini dikelola secara profesional:
• Teknologi Seolhyang: Jenis strawberry unggulan ini dikembangkan melalui riset canggih sehingga menghasilkan tekstur berair (juicy) dan rasa manis alami.
• Sistem Hydroponic Tinggi: Kebun di Korea menggunakan sistem tanam setinggi pinggang. Wisatawan tidak perlu membungkuk, kebun menjadi sangat bersih, dan sangat aesthetic untuk difoto.
• Ekonomi Kreatif: Strawberry tidak hanya dijual segar, tapi juga diolah menjadi strawberry kering berlapis cokelat yang memenuhi rak-rak minimarket sebagai oleh-oleh kelas dunia.

Pelajaran dari Meja Makan Korea

Kreativitas Korea Selatan ternyata tidak berhenti di layar kaca atau perbatasan militer, tapi meresap hingga ke meja makan.

Strawberry dan ayam goreng bukan lagi sekadar komoditas pertanian atau peternakan, melainkan sebuah Pengalaman Emosional.

Dari sini kita belajar, bahwa dengan sentuhan inovasi dan riset, produk pertanian yang sederhana pun bisa menjadi daya tarik wisata internasional yang mendatangkan devisa besar.

Semoga kehadiran para penulis Diamond KBM App di sana bisa memicu lahirnya karya-karya yang membawa semangat inovasi serupa ke Tanah Air.

Bahwa apapun produknya, jika dikemas dengan kreativitas "gila", ia akan mampu menaklukkan dunia.